Jumat, 06 Mei 2016

NAGEKEO KENTAL ETNOSENTRISME, Sebuah Refleksi Pasca Pilkada

Etnosentrisme adalah sebuah cara berpikir yang menjadikan kelompok sendiri sebagai pusat dari segalanya dan menjadi tolak ukur dalam menilai dan mengukur kelompok lain. Tiap-tiap kelompok diasumsikan memupuk sendiri-sendiri kebanggaan dan harga diri, merasa superior, mengagungkan kesucian kelompok sendiri dan memandang rendah kelompok lain.

Tiap kelompok berpikir bahwa tradisi cara pikir dan tindak kelompoknya adalah yang paling benar sementara tradisi kelompok lain selalu dilihat dengan penuh kehinaan.

Etnosentrisme, sebagaimana nasionalisme, mengandung perilaku positif terhadap kelompoknya sendiri (ingroup) dan perilaku atau penyikapan negatif terhadap kelompok lain (outgroups). Sikap etnosentrisme ditandai oleh kesetiaan pada kelompok (ingroup loyalty), antipati terhadap kelompok lain (antipathy toward outgroups), kompensasi-kompensasi yang nyata (tangible rewards) dan manipulasi para pemimpin kelompok tersebut.

“Leader manipulation” ditandai oleh adanya pemimpin yang seringkali melihat manfaat bagi diri sendiri atas nasionalisme dan etnosentrisme. Oleh karenanya ia berusaha meningkatkan spirit itu melalui eksploitasi rasa takut dan benci terhadap kelompok lain.

Istilah “tak kenal maka tak sayang” berlaku dalam konteks etnosentrime. Semakin tidak mengenal satu kelompok terhadap kelompok lain, semakin mungkin kelompok itu salah dalam memaknai karakteristik, keyakinan, maksud-maksud dan perilaku kelompok yang bukan bagian darinya. Etnosentrisme membatasi kontak dengan outgroups dan oleh karenanya menyuburkan kesalahpahaman mengenai outgroups itu sendiri.

JANGAN MULUK-MULUK DAN IDEALISME YANG BERLEBIHAN MEMBESARKAN BAYI


Seorang bayi yang baru lahir tidak mungkin langsung melangkahkan kakinya atau pintar berbicara layaknya orang dewasa kecuali bayi ajaib ehm’.., memperlakukan seorang bayi harus butuh kesabaran.

RAGI/HOBA NAGEKEO TERLALU KASAR DAN KAKU


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Motif kostum adat Nagekeo Flores semakin digandrungi publik tanah air, seperti terjadi di kota Jakarta belakangan ini.

Tak disangka, designer senior nasional Reggie Lawalata ternyata sangat menyukai motif Nagekeo. "Aku sangat suka hitam kuning emas," ujarnya kepada salah satu tamu istimewa belum lama ini.

Tobby Ndiwa, musisi berbakat yang sedang naik daun di kota metropolitan Jakarta ini, mengaku terkejut ketika menemukan banyak kain motif Nagekeo di lemari etalase sang designer Reggie Lawalata.

"Ketika kami mengisi pesta ultah actress dan designer senior nasional Reggie Lawalata di kediamannya sekitar bilangan Dharmawangsa ahad silam saat acara selesai, mataku tertuju kepada dua buah lemari kaca yang terpampang di kedua sudut ruang tamu yang dipenuhi berbagai ten unan ikat dari berbagai daerah di Indonesia.

"Selesai memberesi peralatan yang kami bawa, rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Di hati kecilku bertanya "apakah salah satu isi dari lemari kaca itu terdapat koleksi tenunan Nagekeo yang saya bangga selama ini. Sontak saja ketika semakin mendekat "eh ternyata sosok itu ada".

"Selesai mengintip saya kembali duduk di mini bar pribadi. Tak lama kemudian muncullah Oscar Lawalata Sang putra Reggie yang juga designer beken tanah air bersama Angel Pieterz mantan penyanyi finalis Idola Cilik 1' RCTI yg saat ini sudah beranjak menjadi penyanyi remaja.

SURAT TERBUKA UNTUK PENGELOLA SAN DIEGO HILLS


Bagi Publik Jakarta dan sekitarnya tentu tak asing dengan kawasan pemakaman elit San Diego Hills yang terletak di wilayah kabupaten Karawang Jawa Barat. Lebih lengkapnya San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes.